INKUIRY APRESIATIF

 

Pendekatan pengembangan masyarakat yang selama ini ada masih berorientasi pada wacana defisit yang cenderung memetakan kelemahan dari orang lain atau suatu lembaga dan bahkan sampai mencoba menganalisa ancaman dari lingkungan sekitar mereka. Pendekatan tersebut seringkali melupakan bahwa proses sosial di sebuah masyarakat berjalan selama bertahun – tahun dan mengendapkan berbagai hal yang sifatnya kultural dan berdimensi positif sebagai sebuah kearifan lokal yang tidak mungkin digeneralisasikan pada semua lingkungan sosial. Padahal, setiap society itu adalah unik sehingga memiliki berbagai keunggulan yang sifatnya adalah komparatif dan bahkan ada beberapa di antara mereka adalah komplemen bagi yang lainnya. Pendekatan dengan wacana defisit yang berpangkal pada penemuan masalah, akar masalah, need assessment, analisis solusi dan implementasinya seringkali malah memberikan efek psikologis bahwasannya “masalah” itu sangat banyak dan kita akan kesulitan memecahkan masalah tersebut. Bagi masyarakat sendiri, akhirnya muncul stigma bahwasannya masalah itu baru bisa diatasi oleh pihak luar kelompok (pemerintah, LSM, pihak donatur, dll) dan bahkan pada taraf tertentu bisa menimbulkan ketergantungan dalam solusi masalah. Merespon kegelisahan tersebut, maka semenjak diterbitkannya artikel ilmiah dari David Cooperrider dan Suresh Srivastva tahun 1987 di Departemen Perilaku Organisasi,  Case Western Reserve University mulai mengembangkan metode penyidikan baru dalam proses pengembangan dan perbaikan sosial dengan meninggalkan wacana defisit dan lebih fokus pada wacana positif. Alasan mereka adalah bahwa organisasi dibentuk, dipelihara dan diubah melalui sebuah percakapan-percakapan, dimana metode pengorganisasiannya hanya dibatasi oleh imajinasi orang dan kesepakatan di antara mereka (orang dalam organisasi). Metode tersebut sekarang ini dikenal sebagai metode pendekatan Appreciative Inquiry. Pada tahun 1996, Diana Whitney bersama beberapa koleganya mencoba menerapkan Appreciative Inquiry pada penciptaan dan pengembangan sebuah organisasi nirlaba United Religion Initiative (URI) yang mencoba mempromosikan kerja sama lintas agama di tingkat akar rumput untuk menciptakan perdamaian, keadilan dan penyembuhan. Pada tahun 1999, Appreciative Inquiry mulai digunakan sebagai pendekatan pada pertemuan pemimpin bisnis dunia yang akhirnya menciptakan Global Compact PBB di tahun yang sama. Pada tahun 2001, David Cooperrider dan Diana Whitney mempublikasikan karya ilmiah mereka yang menjelaskan tentang 4 (empat) prinsip dari Appreciative Inquiry. Tahun 2011, Gersave Bushe meneliti dan mempublikasikan review dari model Appreciative Inquiry, termasuk proses, kritik dan bukti empirisnya. Apakah Appreciative Inquiry itu ? Secara harfiah, appreciative bermakna menyadari kehebatan atau menyatakan kekuatan atau kesuksesan atau potensi, menghargai sesuatu, memberikan nilai tambah dan bahkan mengambil pelajaran akan sesuatu hal. Sedangkan inquiry bermakna menanyakan atau terbuka dalam melihat potensi, tindakan untuk mengeksplorasi sesuatu, tindakan untuk menemukan sesuatu (Cooperrinder & Whitney, 2001). Pendekatan appreciative inquiry (AI) ini fokus pada pencarian kekuatan dan inti positif dari keberadaan komunitas untuk membangun visi yang bisa diraih secara kolektif. Secara garis besar, alur proses pendekatan appreciative inquiry ini diawali dengan mengapresiasi hal – hal terbaik yang dimiliki oleh komunitas, kemudian dilanjutkan dengan membangun impian yang terfokus dari komunitas yang dilanjutkan pada penyusunan atau perancangan tindakan – tindakan serta melakukan tindakan – tindakan tersebut yang berbasiskan pada inti positif yang dimiliki komunitas. AI memiliki lima prinsip dasar, yaitu :

 

Prinsip Konstruksionis. Prinsip ini mengusulkan bahwa apa yang kita yakini benar menentukan apa yang kita lakukan, serta pemikiran dan tindakan muncul dari sebuah hubungan dalam organisasi. Melalui bahasa dan wacana interaksi sehari-hari, orang membangun bersama organisasi tempat mereka tinggal. Tujuan penyelidikan adalah untuk merangsang gagasan, cerita dan gambar baru yang menghasilkan kemungkinan aksi baru. Prinsip ini sejatinya mengungkapkan bahwa kata – kata mampu menciptakan dunai.

Prinsip Simultanitas. Prinsip ini mengusulkan bahwa saat kita menyelidiki sistem manusia, kita mengubahnya dan menanamkan benih perubahan. Hal-hal yang dipikirkan dan dibicarakan orang, apa yang mereka temukan dan pelajari, tersirat dalam pertanyaan pertama yang diajukan. Pertanyaan tidak pernah netral, mereka sangat menentukan, dan sistem sosial bergerak ke arah pertanyaan yang paling sering mereka pertanyakan dan mereka mendiskusikannyadengan penuh semangat. Proses penyidikan melalui pertanyaan – pertanyaan tersebut pada akhirnya mampu menciptakan perubahan.

Prinsip Puitis. Prinsip ini mengusulkan bahwa kehidupan organisasi diungkapkan dalam cerita yang mereka ceritakan setiap hari, dan kisah tentang organisasi secara terus-menerus yang ditulis bersama – sama. Kata-kata dan topik yang dipilih untuk penyelidikan memiliki dampak yang jauh melampaui dari kata-kata itu sendiri. Mereka memohon kepekaan perasaan, saling pengertian dan dunia makna di antara mereka. Sehingga sebenarnya tim dan organisasi seperti buku yang sudah terbuka, dimana prinsipnya perjalanan organisasi merupakan sumber yang tidak berakhir untuk belajar dan pembelajaran dan memberikan kita ruang untuk memilih apa yang akan kita pelajari. Prinsip ini mampu menggambarkan dan bahkan menciptakan dunia seperti yang kita ketahui.

Prinsip Antisipatif. Prinsip ini mengemukakan bahwa apa yang kita lakukan hari ini sebenarnya dipandu oleh citra masa depan kita. Sistem manusia selamanya memproyeksikan di depan diri mereka atas cakrawala harapan yang membawa masa depan dengan kuat ke masa sekarang sebagai agen penggerak mereka sendiri. Permintaan apresiatif menggunakan penciptaan yang indah atas citra positif secara kolektif untuk mengubah lagi realitas antisipatifnya di kemudian hari. Prinsip ini menjelaskan bahwa gambaran masa depan mampu menginspirasi aksi.

Prinsip positif. Prinsip ini mengusulkan bahwa momentum dan perubahan yang berkelanjutan membutuhkan pengaruh positif dan ikatan sosial. Sentimen seperti harapan, kegembiraan, inspirasi, persahabatan dan kegembiraan meningkatkan kreativitas, keterbukaan terhadap gagasan dan orang baru, dan fleksibilitas kognitif. Mereka juga mempromosikan hubungan dan hubungan yang kuat di antara stakeholder, terutama di antara kelompok-kelompok yang berkonflik, diperlukan untuk penyelidikan dan perubahan kolektif untuk kepentingan bersama. Prinsip ini mengandung makna bahwa pertanyaan positif akan memberikan peluang perubahan positif yang lebih besar.

 

Metode Pendekatan Appreciative Inquiry Appreciative Inquiry sebagai sebuah pendekatan dalam mengembangkan perilaku organisasi merupakan metode yang mencoba menggunakan cara pengajuan pertanyaan atas kondisi sekarang dan pengalaman terbaik di masa lalu dan membayangkan imajinasi masa depan untuk mendorong hubungan positif dan membangun potensi seseorang, organisasi atau situasi saat ini. Model yang paling umum digunakan adalah siklus empat proses (baca: 4D), sebagai berikut :

 

Discovery merupakan sebuah pengungkapan dan pengapreasiasian atas sesuatu yang bisa memberikan energi positif atas komunitas atau personal. Fokus tahapan ini pada dasarnya adalah mencari dan merefleksikan pengalaman – pengalaman positif terkait dengan topik yang telah dipilih pada tahapan definition sebelumnya.

Dream merupakan tahapan mengolah imajinasi (envision) dari komunitas terkait kondisi ideal di masa depan dari topik yang dibahas. Informasi pada tahap definition dan discovery dijadikan landasan pijakan atas spekulasi dari imajinasi yang memungkinkan dicapai di masa depan.

Design merupakan tahapan perancangan dan penciptaan struktur masyarakat, proses dan hubungan yang mendukung tahapan dream. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi atau pernyataan yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif dalam komunitas.

Destiny merupakan tahapan yang memiliki tujuan penguatan kapasitas dukungan terhadap masyarakat / komunitas untuk membangun harapan dan menciptakan proses belajar, penyesuaian – penyesuaian target serta berimprovisasi dalam mencapai harapan masyarakat. Tahapan ini memberdayakan setiap anggota untuk melakukan tindakan – tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan komunitas.

 

Penerapan Appreciatif Inquiry

 

Pendekatan dalam menggali appreciative inquiry ada bermacam – macam mulai dari per-individu, per-kelompok atau sampai pada wawancara yang dimobilisasi secara massal yang biasanya disebut Appreciative Inquiry Summit. Pendekatan ini melibatkan membawa banyak kelompok orang yang beragam untuk belajar dan membangun yang terbaik dalam sebuah organisasi atau komunitas.

 

AI digunakan dalam pengembangan organisasi dan sebagai alat konsultasi dalam upaya untuk mewujudkan perubahan strategis organisasi. Ini telah diterapkan di bisnis, hospitality, organisasi nirlaba, institusi pendidikan, dan  pemerintah.  AI memiliki berbagai aplikasi bisnis dan dapat digunakan secara efektif untuk mendapatkan informasi dari para stakeholder. Semangat positif dipasangkan dengan konsensus kelompok untuk membayangkan kondisinya di masa depan dan mulai menghasilkan masa depan yang optimis berdasarkan kekuatan dan pengalaman keberhasilan yang ada.

 

Berdasarkan pengalaman penulis, AI bisa diterapkan dalam memfasilitasi perencanaan kegiatan project kelompok perempuan entrepreneur dalam membangun jejaring bisnis usaha kelompok mereka. Proses fasilitasi dengan metode AI tersebut disandingkan dengan analisis SOAR (Strength, Opportunities, Appreciative, Result). Hal ini dikarenakan dengan menggunakan analisis SOAR dalam proses perencanaan operasi strategis memungkinkan organisasi membangun jalur menuju kesuksesan. Analisis SOAR adalah salah satu aspek terpenting dari proses perencanaan strategis untuk setiap organisasi (McKenna, Daykin, Mohr, & Silbert, 2007).  SOAR mengambil filosofi appreciative inquiry dan menerapkannya untuk memberikan pemikiran strategis dan proses dialog.

Komentar